Lazismu
Reinkarnasi Penolong Kesengsaraan Umum
(Ibroh Api Juang Kyai
Dahlan)
Oleh: Ikhwanushoffa
(Anggota Pengurus Lazismu PDM Sragen)
Dodok Sartono, SE
(Ketua Pengurus Lazismu PDM Sragen)
Abstraksi
Mobilisasi sosial yang dimasinisi Kyai Dahlan 1 abad yang lalu telah
membuahkan karya yang fenomenal. Itu tak lepas dari keakurasian pencandraan
Beliau dalam memeri problema masyarakat saat itu dan keprimaannya dalam
menemukan solusinya. Ini hanya mungkin dilakukan oleh sosok yang telah selesai
akan dirinya sendiri. Manusia Muhammadiyah kini terlahir dengan masalahnya
sendiri. Ia harus menemukan aqidah/paradigma masa depan yang akuratif (tajdid) dan itu benar-benar dihayati dalam hidup mulai kini. Ini tanda
lahirnya minoritas kreatif. Di lain sisi juga musti mengeksplor tradisi positif
Muhammadiyah yang sebenarnya telah ada dan mengakar sejak gerakan ini menjadi (turats). Dan gerakan Lazismu mempunyai alasan
kecukupannya dalam menyelenggarakan turats Muhammadiyah.
I.
Mencandra Pemikiran Kyai Dahlan
KH. Ahmad Dahlan memberikan tonggak kokoh dalam membangun
peradaban khususnya di Indonesia. Selain menyelesaikan problem-problem kekinian,
saat itu beliau juga berusaha menyiapkan masyarakat masa depan dengan penuh
telaten. Walau semua bisa disimplifikasi dari motivasi (latar belakang) yang
tunggal yakni penyantunan pada yang fakir (baik itu fakir harta maupun fakir
ilmu) tetapi mempunyai orientasi (latar depan) yang ganda. Dengan dirintisnya
rumah miskin, panti asuhan, rumah sakit, dan sejenisnya Kyai Dahlan berkehendak
kebutuhan jangka pendek umat mampu teratasi dengan secepatnya. Sedang meretas
forum-forum pengkajian, sekolah, mendorong warga Muhammadiyah berpendidikan
setinggi-tingginya dan seterusnya adalah jawaban akan problem masa depan,
dimana dimasa depan tiap umat dituntut menyiapkan paradigma (aqidah) yang
relevan pada jamannya. Minimal menurut Thomas S. Kuhn, bila saat ini masyarakat
sedang berparadigma I maka masa depan adalah milik sekelompok kecil masyarakat
yang saat itu telah mampu hidup dengan paradigma II, dan seterusnya.
Dalam satu
abad Muhammadiyah kita bisa merasakan, meminjam istilah Kuntowidjoyo,
mobilisasi sosial warga Muhammadiyah telah banyak membuahkan hasil, bahkan
paradigma ke-Islaman negeri ini mayoritas adalah hasil tempaan Kyai Dahlan
dimasa lalu. Terlepas dari hal furu’iyah dan politis. Bagaimana penduduk negeri
ini kini bisa berdampingan secara elegan, confident
dan substantif. Walau saat itu Kyai Dahlan hidup dalam kondisi umat Islam yang
terbelakang, tidak PD dan tradisional, beliau saat itu telah mampu hidup seperti
manusia masa depan, beliau adalah sosok yang melampaui zamannya.
Banyak tokoh
menuai salah paham ketika berkehendak melacak pemikiran yang paling
mempengaruhi Kyai Dahlan. Bila Afghani dan Abduh dianggap yang paling dominan
tentunya beliau tak akan merintis lembaga penyantun mustad’afin dan
sekolah-sekolah secara masif karena kedua tokoh dimaksud juga tak melakukan hal
itu. Apalagi bila dianggap Wahabi adalah paham yang paling mempengaruhi Kyai
Dahlan, kita akan menemui sesat paham karena Wahabi takkan mungkin merintis
organisasi perempuan macam Aisyiah dan menyekolahkan mereka sampai ke jenjang paling
tinggi di jurusan apapun, apalagi dikurun waktu itu.
Melacak
pemikiran semestinya dari cara pandang
maqomat keilmuan menurut Kyai Dahlan sendiri dan yang telah Beliau gapai
sendiri pula. Menurut Beliau tiga isi pokok al-Quran adalah al-Iman, al-Islam
dan al-Ihsan, dan Beliau memberi ilmu pengetahuan agama menjadi: Ilmu Tauhid,
Ilmu Figh dan Ilmu Tasawuf. Bila memeri pemikiran Kyai Dahlan dari maqomat Ilmu
Tasawuf maka kita akan ketemu kesesuaian paham bagaimana Beliau melakoni
perintisan Muhammadiyah ini. Maka keterangan bahwa Kyai Dahlan akrab dengan
kitab-kitab al-Ghazali dan kitab-kitab bab Tazkiatul Nafs Ibn Taimiyah menjadi
mempunyai relevansi dan semestinya menjadi resultan pemikiran Kyai Dahlan
berikutnya. Hidupnya yang zuhud (harta maupun kekuasaan), ketegangan antara khouf dan raja’ yang selalu Beliau jaga hidup hingga akhir hayat, dan
totalitas dalam peran yang tak tergantikan kecuali oleh Beliau sendiri menjadi
bukti empirik yang terlalu riil.
II. Titik Tolak Perubahan Kyai Dahlan
Pertanyaan berikutnya adalah sejak kapan Kyai Dahlan
menemukan transendensi momen spiritual sehingga menjadi manusia agung itu?
Bukti sejarah mencatat bahwa setelah haji, terutama haji yang kedua, Beliau
menemukan perubahan-perubahan yang berarti, shifting
paradigm, pergeseran dan pengukuhan aqidah. Seperti yang kita tahu, setelah
haji Beliau meluncurkan momen dan monumen fenomenalnya. Menurut Muhammad Zuhri,
Haji adalah puncak peribadatan Islam. Haji adalah transendensi kemauan insani
menjangkau Iradatulloh (Kehendak Tuhan). Sebuah peribadatan sebagai solusi
sintesa dari dua kutub keadaan manusia yang diametrik yakni antara makhluk
sejarah di satu dan makhluk kosmos disisi yang lain, sehingga dengan haji yang
mabrur manusia akan menemukan diri sebagai makhluk abror atau insan kamil.
Insan yang peroleh maqom:
$tB ¼çmçGù=yèsù ô`tã ÌøBr&
Dan apa yang aku
lakukan tidak dari kemauanku sendiri. (al-Kahfi:78)
Didalam aktualisasi diri tanpa motif selain amr-Allah
tersirat wujudnya peran ketuhanan didalam diri pelakunya.
Soal
amr-Allah, Muhammad Zuhri menjabarkan bahwa kenyataan yang
berujud benda-benda, manusia dan peristiwa-peristiwa memiliki dua wajah yang
berupa “ciptaan” dan “amr”. Ketika seseorang menghadapi kenyataan dan yang
tampak olehnya sisi “ciptaan”-nya, ia akan bersemangat untuk hidup dengan
berupaya mengungkapkan segala fasilitas yang tersimpan di dalamnya. Apabila
yang tampak olehnya sisi “amr”-nya (amrullah),
ia akan kehilangan hak untuk menyentuhnya menurut kemauan sendiri.
wr& ã&s! ß,ù=sø:$# âöDF{$#ur 3 x8u$t6s? ª!$# >u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÎÍÈ
Sungguh, milik
Allahlah ciptaan dan amr itu. Mahaberkah Allah, Pengurus semesta alam. (al-A’raf: 54)
Secara otentik kita menyaksikan bahwa Kyai Dahlan telah
membuktikan dalam dirinya sebuah ayat:
cÎ) ©!$# w çÉitóã $tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçÉitóã $tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3
Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan yang ada dalam suatu kaum sehingga mereka mengubah
apa yang ada didalam dirinya. (ar-Ra’d: 11)
Dengan berubahnya kedirian Kyai Dahlan maka berubah pula
keadaan manusia nusantara ini. Disinilah jawaban terang akan perdebatan klasik
ayam dan telur tentang mana dulu yang harus berubah dalam meretas peradaban,
manusia atau sistemnya dahulu. Dalam Islam jawabannya terlalu gamblang bahwa
manusianya yang harus berubah terlebih dahulu. Dalam sebuah halaqah Muhammad
Zuhri pernah menyampaikan bahwa Kyai Dahlan adalah sufi terbesar saat itu,
karena sufi-sufi seantero dunia pada jamannya hanya berkutat dari masjid, majlis
dan pesantren, tetapi Kyai Dahlan tampil dalam gerakan organisasi maju, menyantuni kaum
papa sekaligus merintis sekolah-sekolah yang jumlahnya kini tiada banding
di planet ini.
III. Tantangan Muhammadiyah Kini dan
Tawaran Solusi (Lazismu Sragen sebagai case
study)
Tantangan
generasi Muhammadiyah saat ini adalah bagaimana melanjutkan elan vital Kyai
Dahlan. Merujuk pendapat DR. Sir Muh. Iqbal ketika memeri kemegahan Yunani pada
jamannya, Iqbal berpendapat bahwa kejayaan Yunani ditopang selain terbuka akan
pemikiran-pemikiran falsafah saat itu juga karena kokohnya kearifan tradisi
mitologis yang dipertahankan. Senada dengan Hassan Hanafi dalam mencandra Tiongkok yang mekar
luar biasa, karena pada
rintisan jamannya Mao Tse Tung selain terbuka dengan ide komunis
juga masih mempertahankan tradisi Kong Fu Tse yang mengakar di masyarakat.
Tugas kaum muda saat ini adalah menggali paradigma masa
depan, tapi
itu saja tidak cukup. Harus berhasil menemukan paradigma yang diyakini dan
benar-benar diselenggarakan dalam hidupnya, jadi tidak sekedar konsep. Kemudian
mengeksplor dan
menghidupkan tradisi Muhammadiyah yang positif dan mengakar. Dalam istilah Hassan Hanafi inilah
konsep tajdid (pembaharuan) dan turats (tradisi).
Kami dari Sragen meyakini bahwa Lazismu memenuhi sufficient reason (alasan kecukupan)
untuk dijadikan sebagai icon
tradisi Muhammadiyah. Karena walau saat ini belum menjadi program unggulan
secara nasional di Muhammadiyah, tetapi darah penyantunan sebenarnya telah
mengalir pada diri-diri warga Muhammadiyah. Cuma belum terwadahi secara
profesional sedemikian sehingga capaian, sasaran, sebaran dan penyalurannya
jadi tidak maksimal. Contoh kecil yang menohok adalah sedemikian mudah kita
membangun Gedung Dakwah dengan abai bahwa disekitarnya ribuan rumah mau ambruk.
Minimal ini yang terjadi di Sragen, di Sragen saat ini ada 40.000 lebih rumah
tidak layak huni, tetapi jangan tanya, para aghniya dan perkumpulannya dalam
waktu relatif singkat mampu membangun gedung pertemuan megah dengan tanpa kita
dengar bahwa mereka punya program bedah rumah. Belum lagi kalau kita bicara waiting list haji ditengah seretnya
penarikan zakat, dan sebagainya-dan sebagainya.
Dalam rapat
perdana Lazismu Sragen, saya menyampaikan prolog yang menurut saya kristalisasi
dari sekian benang merah perbincangan, tulisan bahkan makian akan realita kekinian
Muhammadiyah, saya sampaikan: “Apa saat
ini yang murah dari Muhammadiyah, sekolahnya mahal, rumah sakitnya mahal,
PT-nya apa lagi?!”. Disinilah Lazismu menemukan titik strategisnya. Bahwa
kehadirannya semacam klise film Penolong Kesengsaraan Umum yang dicetak ulang. Berikut sekedar sebagai gambaran Lazismu
di Sragen:
1. Pada
awal tahun 2010 sama sekali tidak ada cerita bahwa ambulan benar-benar gratis,
apalagi untuk area antar seluruh pelosok Jawa-Madura, pada tahun itu juga
ambulan Lazismu Sragen menjadi pionernya.
2. Tahun
2011 di Sragen, bahkan mungkin Muhammadiyah daerah manapun, belum ada cerita
1000 anak yatim/piatu diberi santunan yang layak dalam satu waktu dan tempat,
dengan tertib. Maka pada ramadhan tahun itu, Lazismu mampu menyantuni 1250 anak
yatim/piatu di Masjid Raya al-Falah Sragen dengan tanpa berdesak-desakan
apalagi ada yang mati karena impitan atau injakan.
3. Pada
tahun 2012 untuk daerah Jawa Tengah baru Lazismu Kendal yang mampu menghimpun
ZIS hingga milyaran, itupun karena Bapak H. Muslim telah merintis Bapelurzam
PCM Weleri Kendal sejak tahun 1979 bahkan tidak berhenti sampai beliau jadi
Ketua PDM Kendal saat ini. Maka pada tahun itu Lazismu Sragen mencanangkan
capaian ZIS 1 milyar, dan Alhamdulillah hingga tutup tahun bisa terkumpul 1,48
milyar rupiah.
4.
Sampai
tahun 2013 kita juga belum pernah mendengar klinik Muhammadiyah memberikan
kesempatan pada pasien untuk membayar biaya pengobatan dengan sukarela, apalagi
untuk dokter spesialis bahkan opname. Maka tahun itu berdiri di Sragen Klinik
Sukarela Aisyiah-Lazismu. Dan di akhir medio 2014 ini skema pembiayaannya
ditata menjadi donatur bagi yang mampu dan sukarela bagi fakir miskin. Skema
donaturpun biayanya masih dibawah rata-rata dibanding berobat di luar. Di akhir
tahun 2013 ZIS terkumpul oleh Lazismu Sragen sebesar 1,81 milar rupiah.
5. Tahun
2014 ini Lazismu mencanangkan tahun pemberdayaan (permodalan produktif) merubah
mustahik menjadi muzakki dan ini butuh dana besar sedemikian sehingga fokus
program adalah kampanye zakat. Hingga per 30 Oktober kemarin telah terkumpul 2,3
milyar rupiah dari target tutup tahun 3 milyar. Dana yang terkumpul itu sudah
temasuk penghimpunan dana untuk Gaza sebesar Rp 178 juta lebih, yang disalurkan
bersama PP Lazismu sebesar Rp 2,5 M. Bisa dibayangkan bila Lazismu, seluruh
kabupaten/kota yang berjumlah 514 di Indonesia itu mengumpulkan dana per Rp 10 jutaan saja, maka kita akan mampu
mengirim ke Gaza Rp 5 M lebih. Plus, bila tahun 2010 kita baru punya 1 ambulan
gratis, maka tahun ini kita telah punya 4 ambulan gratis. Ini mengindikasikan
potensi Lazismu yang luar biasa sebagai unit penyantun reaksi cepat.
Capaian-capaian
di atas bagi daerah-daerah lain mungkin lumayan sedikit, tapi bagi kota kecil
seperti Sragen capaian itu cukup besar, walau belum bisa dikatakan optimal.
Kunci utama yang dilakukan Lazismu Sragen sejak tahun 2010 adalah pembenahan
manajemen dengan sedikit meniru Majlis Dikdasmen, dimana antara yang di pengurus
majlis terpisah dengan para pelaksana yakni Kepsek, Guru dan tenaga sekolah.
Maka Lazismu Sragenpun memisah amil menjadi Pengurus dengan Pelaksana, dimana
Pelaksana memang digaji, masuk dan
bekerja secara profesional. Sedikit gambaran tahun 2010 pelaksana Lazismu
Sragen sebanyak 2 orang, tahun 2011 sebanyak 5 orang dan 2012 sampai sekarang 7
orang.
IV.
Khatimah
Makalah ini akan kehilangan relevansinya bila sekedar
membicarakan capaian fisik Lazismu, tetapi kita akan membahas tradisi positif
apa yang pantas dihidangkan sebagai program unggulan Muhammadiyah bersanding
dengan program unggulan lainnya dalam meniti jalan masa depan jaman. Karena
tidak mungkin semua program jadi unggulan, dan juga sebaliknya jadi ironi bila
program yang diunggulkan ternyata tidak relevan. Bila kita sepakat akan tesa
Muh. Iqbal dan Hassan Hanafi, maka Lazismu Sragen menawarkan Lazismu sebagai
tonggak tradisi yang harus dijaga dan diunggulkan oleh Muhammadiyah, dan di
sisi lain mungkin JIMM bisa dipromosikan sebagai minoritas kreatif untuk
menyiapkan cetak biru aqidah masa depan, selama memang paradigma itu
benar-benar diyakini kesahihannya, terpenuhi pula alasan kecukupannya, dan
dilakoni betul dalam hidup sehari-hari para penggerak-penggeraknya, mulai saat
ini.
JIMM memang diproyeksikan sebagai cerdik cendekia
(ulama) Muhammadiyah dan Lazismu fokus utamanya adalah penyantun kaum miskin.
Ulama dan orang-orang miskin mempunyai posisi sentral dalam spiritual Islam, dalam
sebuah potongan hadis qudsi:
“……
Carilah
keridlaan-Ku dengan mencari keridlaan orang-orang miskin. Carilah
rahmat-Ku dengan menyertai para ulama. Karena rahmat-Ku tak sekejap pun
terpisah dari mereka.
Allah berfirman: “Wahai Musa! Dengarkanlah apa yang Kukatakan. Barangsiapa yang sombong
pada orang miskin, sungguh akan Aku kumpulkan di hari kiamat kelak dalam bentuk
semut kecil. Barangsiapa yang merendahkan diri dan santun pada orang miskin,
maka dia akan Aku muliakan di dunia dan akhirat.
Barangsiapa
yang mencoba membeberkan rahasia orang miskin, maka kelak dihari kiamat akan
Aku kumpulkan dalam keadaan terbeber rahasianya. Barangsiapa yang merendahkan
orang miskin, maka ia sungguh menantang perang dengan-Ku.
Barangsiapa yang beriman kepada-Ku, malaikat
akan menyalaminya di dunia dan akhirat.”
Muhammadiyah
boleh-boleh saja tidak memakai Lazismu dan JIMM untuk menyongsong masa
depannya, juga boleh tidak sependapat dengan Iqbal dan H. Hanafi bahkan hadis
qudsi ini untuk konteks persoalannya, tetapi yang jelas problem solving amat tergantung akurasi dan keprimaan memotret problem setting-nya, dan tiap
penyelesaian masalah butuh relevansi dan alasan kecukupannya masing-masing. Wallahu a’lam.
Billahittaufiq walhidayah.
Bahan Bacaan:
1. Al-Ghazali,
Imam, 1999 cet 3, Peringatan-Peringatan
Ilahi Dalam Hadis Qudsi, Mitra Pustaka, Yogyakarta.
2.
Hadjid,
KRH, 2013 cet 5, Pelajaran KHA Dahlan, 7
Falsafah Ajaran & 17 Kelompok Ayat Al-Quran, MPI PPM, Yogyakarta.
3.
Iqbal,
Muhammad, 1966, Membangun Kembali Alam
Pikiran Islam, Bulan Bintang, Jakarta.
4.
Mulkhan,
A. Munir, 2005, Kisah Dan Pesan Kiai
Ahmad Dahlan, Pustaka SP, Yogyakarta.
5.
-----------,
2010, Jejak Pembaharuan Sosial Dan
Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan, Kompas, Jakarta
6.
Zuhri,
Muhammad, 2007, Mencari Asma Allah Yang
Keseratus, Panduan Menjadi Teman Dialog Tuhan, Serambi, Jakarta
7.
-----------,
2007, Hidup Lebih Bermakna, Serambi,
Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar