Kamis, 18 Desember 2014

(Kembali) Objektifikasi [Oleh: Supardi; Alumni Ponpes Muhammadiyah Sragen Angk. 1996]

Makalah ini akan dikaji di Majlis Selikuran putaran ke-16, Ahad 21 desember 2014 di Serambi Masjid Raya Al-Falah Sragen

Mengikuti dialektika Hegel, tesa—antitesa—sintesa, posisi objektifikasi “kurang lebih” menjadi islamisasi—sekularisasi—objektifikasi. Islamisasi mengandaikan adanya gerakan dari konteks ke teks. Konteks yang tak lain adalah kenyataan mesti ditarik ke ranah teks. Peristiwa-peristiwa keseharian yang merupakan wajah kenyataan dicari relevansinya dengan narasi kitab suci. Kenyataan menyesuaikan kitab suci. Gerakan islamisasi ini bergulir ketika Muhammad Natsir membidani Masyumi. Masyumi disebutnya sebagai partai Islam. Membawa aspirasi dan representasi aliran Islam. Masyumi, oleh para penggagas dan pengusungnya, didedikasikan sebagai upaya eksternalisasi. Mewujud-nyatakan keyakinan nilai-nilai Islam ke ranah publik. Kehidupan sosial, dinilai belum islami, sehingga perlu diislamisasikan. Kenyataan mesti diselaraskan dengan isi teks kitab suci.

Gerakan islamisasi mendapatkan momentumnya, kala meletus Revolusi Iran, tahun 1979. Gerakan kembali ke teks marak, seiring kemenangan para mullah, menggulingkan rezim sekuler. Buku-buku sejenis, yang membawa ide islamisasi, membanjiri toko buku. Membombardir para penikmat buku. Tokoh-tokoh  pengusung islamisasi, kian familiar di telinga kawula muda generasi 70-an. Sebut saja, ada Ziaudin Sardar, Isma’il Raji Al-Faruqi, Abul A’la Al-Maududi, Sayid Qutub, dan lain-lain. Dan Bang Imad atau Imadduddin Abdulrahim, cendekiawan muslim lokal dalam negeri, yang getol mengangkat ide islamisasi. Penerbit Mizan, penerbit Pustaka, yang dua-duanya domisili di Bandung, jadi lokomotif penyebaran gagasan islamisasi. Ada lagi penerbit Gema Insani Press, yang hingga kini masih eksis menggulirkan gagasan Islamisasi.

Seiring gagasan islamisasi yang bermula dari Masyumi, tahun 1955, dan mendapatkan puncak “kejayaan” tahun 70-an, di kutub yang berbeda, mulai bersemi gagasan sekularisasi. Adalah Nurkholish Madjid, lokomotif sekularisasi, yang menghembuskan gerakan pembaharuan pemikiran Islam, tahun 1970. Bersama sejawatnya di PII, dan HMI, seperti Utomo Dananjaya, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib, dan sebagainya, ia menggulirkan pentingnya pemisahan agama dari arena publik. “Islam, Yes, Partai Islam, No ?”, jadi ikon Cak Nur, sapaan akrab Nurkholish Madjid, yang sontak mendapat perlawanan sengit dari kutub “Islamisasi”. Gagasan sekularisasi, sederhananya adalah teks untuk teks itu sendiri dan ranah privat, sedang konteks adalah duniawi, ranah publik yang berlepas dengan ikatan ukhrowi atau teks. Gagasan sekularisasi, seakan kini telah mendapatkan lahan suburnya, dengan makin gencarnya gerakan Islam liberal. Kita mengetahui bahwa Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Asyaukanie, Novriantoni, dan para “geng” paramadina, tak henti mengkampanyekan sekularisasi. Jargon “pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme”, jadi ikon para pengusung sekularisasi saat ini.

“Pertarungan” kutub islamisasi dengan kutub sekularisasi, kini makin terasa panas. Saling tuding kerap terlontar dari kedua kutub. Kutub Islamisasi, yang dikenal dengan gerakan skriptural/tekstual, dicurigai akan membawa Islam “garis keras”. Fenomena teror, dan kekerasan berbasis agama, ide Negara Islam sering dialamatkan pada pengusung islamisasi. Sebaliknya kutub sekularisasi, yang mencoba memilah secara sosiologis bukan filosofis, dunia-akhirat, disalahpahami, sebagai pendukung pragmatisme ala Orde Baru. Gagasan kebebasan berekspresi, ide pemisahan ekstrim agama-ilmu pengetahuan, dan Negara sekuler, ditujukan kepada para pengusung sekularisasi.

Mencoba keluar dari kemelut “kubu-kubuan” tersebut, almarhum Kuntowijoyo, menggulirkan gagasan objektifikasi. Objektifikasi, yang saya tangkap dari tulisan-tulisannya, adalah upaya menerjemahkan teks kitab suci menjadi konteks atau kenyataan. Hal itu mengandaikan adanya rumusan teori sosial yang berbasis teks. Teori yang diturunkan dari narasi teks kitab suci, baru kemudian diterjemahkan jadi ujud nyata. Kalau para pengusung sekularisasi, biasa berkutat pada hermeneutik, yaitu ilmu alat untuk menafsirkan teks, demi memahami kedalaman Islam, demi kebagusan “ilmu agama”. Maka orientasi objektifikasi, bukan untuk memahami Islam, melainkan bagaimana menerapkan ajaran-ajaran sosial yang terkandung dalam teks menjadi konteks sosial masa kini. Objektifikasi adalah upaya menerapkan teks, Al-Qur’an dan As-Sunah, yang merujuk gejala-gejala sosial Arab abad ke-7, menjadi konteks sosial masa kini dan di sini. Abad VII yang masa agraris, jelas berbeda situasi dan kondisinya dengan abad ke-21, yang merupakan era masa teknik. Masa teknik ditandai dengan pola hidup yang serba rasional dan sistemik, tak terelakkan bagi teks kitab suci tersebut untuk menjadikannya kontekstual.

Objektifikasi punya kepentingan untuk kontekstualisasi teks. Kontekstualisasi akan mungkin, jika terlebih dahulu ada rumusan teori yang merujuk pada teks. Dalam merumuskan teori, kita tak bisa menghindar dari aktifitas meminjam teori yang ada. Sehingga teori-teori sosial barat, tak bisa kita hindarkan dalam menganalisa teks, untuk kemudian kita terapkan sebagai gejala objektif. Jadi peminjaman teori itu kita butuhkan, karena kita belum memiliki rumusan teori sendiri, dan saya kira itu sah saja, sepanjang kita memahami batasan Islam. Batasan itu, oleh Kuntowijoyo, disebut kesadaran profetik, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi (Islam sebagai Ilmu, Mizan, hal 104). Humanisasi, kondisi menjadi manusia, artinya memanusiakan manusia, menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Liberasi artinya pembebasan, yang bersinggungan dengan ranah sosial. Sementara, transendensi berarti beriman kepada Allah. Selalu merujuk atau tidak menafikan otoritas Tuhan. Jelas Kuntowijoyo, yang merujuk pada pendapat Fromm (Islam sebagai Ilmu, hal 113), yang tidak menerima otoritas Tuhan niscaya akan mengikuti : (1) relativisme penuh, di mana nilai dan norma sepenuhnya urusan pribadi, (2) nilai tergantung pada masyarakat, sehingga nilai dari golongan dominan yang akan menguasai, dan (3) nilai tergantung pada kondisi biologis, sehingga egoisme, agresifitas yang bakal dominan.

Objektifikasi, jadi sintesa, dari dua kutub, islamisasi dan sekularisasi. Objektifikasi akan mempertemukan dua kutub yang saling menegasikan, yang tak menyelesaikan masalah keberagamaan masyarakat bawah. So, rahmatan lil ‘alamin, bukan lagi jargon. Semoga…..   

Rabu, 17 Desember 2014

Keris

KERIS

Tulisan ini mayoritas terinspirasi dari dialog langsung dengan Pak Muh (www.pakmuh.com) seputar pusaka nusantara dan segala yang melingkupinya. Ada banyak hal yang awalnya begitu menggelitik karena harus merubah beberapa paham yang banyak berkembang khususnya di Islam puritan.
Dunia ini memang telah melahirkan dua titik ekstrim pola pikir yakni logos dan mythos. Logos meniscayakan pemahaman pemikiran seperti ala positivistic, sedang mythos menghayal sebuah paham yang sering kali pokoke aku percoyo. Salah satu misi tulisan ini ingin membawa ke tengah dua alam pikir itu, bahwa kehidupan ini tidak akan mampu sekedar dicerna oleh pikiran logis, sebaliknya sekedar menambatkan percaya tanpa mau memberi batas yang jelas memang potensial akan sesat. Walau menjadi kesadaran bersama bahwa kaum logos maupun mitos akan tetap ada ilaa yaumil akhir.

Berbagai filosofi bisa ditarik dari sebuah pusaka bahkan ketika itu dikaitkan dengan ajaran Islam, seperti pertanyaan:

-          Apa itu tidak termasuk animisme/dinamisme
“Animis/dinamis itu benar, yang salah itu ketika menjadi ‘isme’”, ujar Pak Muh kala itu. Terkaget juga akan pernyataan itu, tapi itu murni karena doktrin klasik pedagogi religi yang selama ini dikecokkan secara kurang tepat. Kalau memakai nalar beragama secara jernih mestinya sudah cukup jelas bahwa yang ber-“ruh” tidak cuma manusia. Disisi lain, “Tidak ada satu atompun yang mampu eksis di dunia ini kecuali jika ada energi yang menjaganya yakni malaikat”,  ujar Pak Muh di suatu kesempatan. Energi malak pada tiap benda berbeda-beda, dan disiplin pengetahuan ini termasuk sudah mulai susah dicari ahlinya.
Para empu pusaka terdahulu amat mengetahui ilmu ini, wabilhusus energi unsur logam besi dan meteorit. Dari buku-buku kita bisa mengetahui resonansi sebuah pusaka dilihat dari ciri-ciri fisik yang disematkan oleh sang empu. Yang menarik pakem (coding) dari “dapur” dan “pamor” oleh para empu bersifat konsisten, sehingga masyarakat menjadi mudah dan tidak bingung memahami posisi dan fungsi sebuah pusaka.

-          Kenapa pusaka punya daya
Tiap benda mempunyai resonansi. Demikian juga besi. Ada beragam jenis besi dalam khazanah nusantara dan para empu sangat memahami resonansi dari masing-masing jenis besi itu. Seperti disebut diawal resonansi itu adalah pancaran energi malak yang melingkupi besi itu. Ini alami bisa mewujud tanpa harus bekerjasama dengan bangsa jin.
Dalam konsepsi umum, “Sesuatu akan menjadi luarbiasa bila mampu menggabungkan dua kutub ekstrim yang berbeda secara harmoni”, ujar Pak Muh. Beliau mencontohkan karya Thomas A. Edison yang menggabungkan dua kutub listrik plus-minus menjadi cahaya yang terkendali. Lampu bolam listrik Edison mampu menyala dengan prasyarat penghampaan hawa di dalam bolam kaca. Persis manusia yang ingin hebat, bila ingin mengharmonisasikan ruh yang diluar ruang dan waktu dengan kemungkinan  yang tidak terbatas, dengan wadak yang terbenam dalam ruang waktu serta potensial yang terbatas, maka ia harus mengeluarkan “hawa” dari kelindan dirinya.
Dalam pembuatan sebuah pusaka, empu mampu mengharmonisasikan dua titik ekstrim dalam kesetimbangan daya dan estetika yang mengagumkan. Satu unsur besi dari bumi, dan satu unsur langit yakni meteorit untuk pembuatan pamornya.
Masih ada lagi keampuhan sang empu, yakni kesabaran, ketelatenan, keuletan juga keprihatinan dalam proses membuat pusaka. Ketika baru mencari inspirasi ia sudah puasa, apalagi terpaan cobaan badani dan godaan hawa ketika membuatnya. Sehingga wajar resonansi dari sang empu begitu terasa. Jadi pusaka adalah perwujudan bentuk tiga dimensi dari doa, harapan dan permohonan dari sang empu yang diiringi kerja dan tekat kerasnya. Maka sang empu tersambar sabda Gusti “inallaha ma’a shobiriin”, ujar Pak Muh.

-          Apa itu resonansi bentukan
Tiap benda yang dipakai atau digunakan oleh seorang manusia maka eter-eter dari manusia itu ikut membentuk gelombang kepada benda yang ia kenakan. Maka kita menjadi wajar dan mafhum, bila hadir dalam rumah seorang yang jahat kita merasa tidak betah, dan bila berada dalam rumah orang yang khusuk kita menjadi ayem. Jadi sama sekali bukan klenik kalau kita ingin mewarisi khasanah benda dari beliau-beliau yang kita akui maqomat spiritualnya. Batasannya sudah cukup jelas, selama hal itu tidak menjadi “isme”.

-          Kenapa lelaki perlu memiliki pusaka khususnya keris
Sosok seorang lelaki selayaknya tampil ikut mengurai persoalan agama maupun dunia. Ketika ia berusaha menelateni ikhtiar kebenaran itu, menjadi sangat mungkin dia tampil sebagai sosok yang amat susah dipahami oleh orang yang paling dekat dengan dirinya sekalipun. Di saat-saat kritis, dalam tekanan yang lagi tinggi-tingginya sangat mungkin dia malah ditinggalkan oleh orang-orang sekelilinginya. Maka dia butuh the last defence, sesuatu supporting system yang tidak akan memrotes apapun kondisi dia. Itulah peran pusaka, khususnya keris. Karena dalam ragam pusaka nusantara, keris memang untuk ageman sekaligus piyandel, tombak lebih untuk penjaga griya dan pedang cenderung untuk peperangan. Mungkin sebagian akan berkomentar, kenapa tidak langsung ke Gusti untuk pertahanan diri?! Ah.. ini sekedar sesuatu yang biasa, bila kita ingin hiburan kita nonton film, atau kalau pas galau kita butuh teman curhat, tidak perlu dikomentari kenapa cari hiburan dan teman curhatnya tidak langsung ke Gusti kan. Githu loh!

Wallahu a’lam.

Air Mata

RISALAH AIR MATA

 

Tangis

Menangis adalah sebuah fenomena dimana keluarnya cairan bening dari mata akibat desakan bathin yang luar biasa, yang bisa macam-macam, bisa kesedihan, haru, gembira, perasaan bersalah dan lain sebagainya.
Disaat ekstase hubungan pribadi antara abdi dengan Penguasanya, adalah lumrah sang abdi mengeluarkan segala keluhan diri, kesalahan diri, kondisi diri. Bila itu terjalin intim, katarsis (pembanjiran unek-unek) bisa berjalan dan air mata berlinang, ada perasaan aneh akan menyusul kemudian , ada perasaan lega, tenang, bahagia, gembira, ceria. Nah, saat seperti ini bisa dipastikan sang abdi cenderung baik dan ingin berbuat baik, sedemikian sehingga niscaya tak ada niat untuk menyakiti abdi-abdi yang lain.
Maka sebuah konklusi ringan bisa dipetik, bahwa hanya orang-orang hatinya tidak bahagialah, tidak bergembiralah yang menyengaja melakukan prilaku menyakiti makhluk Allah yang lain!
Alangkah indahnya bila ketika kita disakiti kita masih mampu tersenyum, memaafkan dan mendoakan yang baik bagi yang menyakiti, karena kita mafhum sesungguhnya yang menyakiti pada hakekatnya sedang susah hatinya, sedang dalam kondisi yang tidak bahagia. Mestinya kita bisa lebih mengasihaninya.

Ceria

Pilihan tepat bagi orang sadar adalah tetap dalam kondisi yang ceria. Dengan ceria kita relatif tidak mudah menyakiti makhluk lain. Dengan ceria kita ikut mencemerlangkan semesta.

Sintesa Air Mata dan Ceria

       Sebuah harmoni yang heroik ketika dihadapan Tuhan, sang abdi mampu menumpahkan segala keluhan semesta, meratapkan seluruh dukanya, mengkhawatirkan kondisi spiritualnya. Dan ketika berhadapan dengan semesta, sang abdi selalu menampakkan keceriaan khas yang elegan, optimisme akan kehidupan dunia, senyuman terhadap derita.
Wallaahu a’lam.

~Universal with Univers; Unity with God ~


(sh, halmahera270903)

Ketua

KETUA dan (mantan) KETUA

Apa  yang kulakukan bila kemarin aku menjadi ketua dan sekarang menjadi bawahan? Aku menjadi tahu diri bahwa sekarang pada posisi dipimpin  yang musti bisa lebih arif, ataukah bertampang selalu berpengalaman memimpin dengan sesering mungkin mengumbar masa lalu kala masih jadi big boss hingga ketuaku kini jadi susah mengaturku?
Lalu apa pula yang aku lakukan bila ketuaku saat ini dulu tidak pernah jadi ketua sepertiku? Kuhormati dia dia sebagai pemimpinku sekarang, ataukah kuposisikan dirinya sebagai muridku yang musti selalu kuajari tentang bagaimana memimpin itu?
Heh, tak tahu aku, syukur aku tak pernah jadi ketua. Makasih Tuhan.
Wallaahu a’lam.


(sh,cantel140203)

Konstitusi

KONSTITUSI ?!*)

          Sejak kapan konstitusi di HMI –yang tertulis- dima’nai sekedar untaian kata-kata ketat yang kaku, sedemikian sehingga membikin acara diskusi ditingkat struktur Badan Pembantu Pimpinan saja ketakutan atau minimal susah luar biasa. Mustinya jeli dalam memerikan konstitusi dimana ketika: ‘Semua boleh kecuali yang dilarang’ dan ketika ‘Semua dilarang kecuali yang diperintah’. Disitulah proporsi-proporsi.
            Sejak kapan pula konstitusi yang tidak tertulis –sering disebut kultur- berhenti pada persoalan Pacaran dan Boncengan. Weh, sempit dan picik sekali! Cobalah lihat, disana ada kultur intelektual, kultur kearifan, kultur mengorangkan orang, ditaruh dimana kultur-kultur ini. Kultur intelektual, dimana sgala lagak, lagu dan laga kita niscaya dima’nai gerak intelektual. Kultur kearifan, dimana kesalahan lebih banyak untuk tidak dihindari tapi dirubah! Kultur mengorangkan orang, dimana perilaku perjuangan sejauh mungkin untuk tidak mencederai siapapun, diri juga semesta. Inilah Ruh! Dan bisa merealita dalam apa saja.
Kultur intelektual, sedemikian sehingga antara pembicara yang sedang eksplanasi ataupun panitia yang sedang cuci piring adalah sejajar, bahkan guyonanpun diupaya slalu ada nilai, tidak asal ngocol dan ngocol asal! Kultur kearifan, sedemikian sehingga sgala aturan main bisa dihayati dengan rela karna siapa lagi yang akan menghormati aturan main bila tidak kadernya sendiri. Kultur mengorangkan orang, sedemikian sehingga tamu ataupun kader yang datang segera disambut dengan sumringah, bahkan soal posesifitas segera bisa tanggap dan tanggon dalam mensikapi durian jatuh di depan rumah, yang jelas-jelas yang punya tidak rela. Dan mustinya masih banyak lagi kultur beserta turunannya. Mau dikemanakan dan digimanakan kultur-kultur ini dalam konstitusi kita?!
Wallaahu a’lam.

(sh, cantel081202)

__________
*)Tulisan ini terlahir dari keprihatinan akan pemahaman konstitusi yang menurut saya terjadi distorsi. Bahwa tidak masalah bila ada perdebatan apakah konstitusi HMI itu, yang tertulis saja atau juga yang tidak tertulis. Saya termasuk yang sependapat bahwa aturan yang tidak tertulispun juga konstitusi. Saya menganalogikan dengan negara, bahwa hukum tidak tertulispun diakui pula sebagai hukum, seperti hukum adat. Distorsi yang saya maksud adalah ruh dari konstitusi jadi tak terjamah, kita mengerti bahwa tiap sesuatu ada sisi dhohir, juga ada sisi bathinnya, dan sisi bathin atau ruh dari konstitusi adalah ‘kesepakatan’. Tidak perduli bahwa kesepakatan itu hasil tradisi ataupun hasil pembaharuan, tertulis ataupun tidak, selama belum diganti mustinya secara ikhlas kita hayati. Dan yang paling relevan mengganti kesepakatan yang sifatnya berlaku secara umum di HMI adalah di kongres ataupun forum-forum nasional yang relevan lainnya. Pernah memang di Temu Pengader Nasional (TPN) di Purwokerto tahun 2000 ada seorang Pengader Akhwat dari Indonesia Timur mengusulkan kultur pergaulan seperti larangan pacaran ditetapkan sekalian secara tertulis dalam konstitusi, dan saya termasuk yang tidak sepakat, dengan alasan saat itu, pertama kemampuan teks dalam memotret kenyataan adalah terbatas, sehingga reduksi malah amat mungkin terjadi, kedua bila  dibukukan berapa kitab konstitusi yang musti dimiliki HMI bila kultur juga harus diatur dalam bentuk teks, sedemikian sehingga semakin banyak kitab dikhawatirkan malah semakin banyak yang tidak terbaca maka makin susah terujud.

Pencari Dan Pecundang

PENCARI DAN PECUNDANG

            Di sini digunakan kata “Pencari” untuk mema’nai individu kreatif yang selalu gundah mencari kebenaran; Para Pencari Tuhan; Para Pencari Diri! –walau memang Tuhan tak dan takkan pernah hilang-. Pasti ada cirinya, maka bila tidak masuk ciri itu meski berlagak “Pencari”, sungguh dia hanya sekedar “Pecundang”!
            Secara eksperiental terungkap, ciri yang paling menonjol dari sang Pencari adalah dia menjadi teramat altruis (kebalikan egois) dimasa-masa pencariannya. Sekedar eksplanasi : Ketika diri gelisah mencari, diawali dari rasa nisbi akan nilai yang dipegang selama ini. Dari sana sang Pencari akan berusaha dengan mati-matian untuk mencari nilai-nilai yang bertebaran di semesta. Nah, muncullah semarak pelayanan, pemberian, pengabdian demi menjumput nilai. Meski tubuhnya dekil, meski ritualnya tak tertib.
            Tapi bila yang terlihat adalah seorang yang dekil, tak tertib, norak dan sekaligus malesan, etos kerja rendah, nyusahin orang,  bukannya yang ringan bantu, suka memberi, senang melayani, rela mengabdi serta bersemangat bila dapat amanah, wah inilah yang namanya: “Pecundang” (The Looser). Sesederhana itu!
Wallaahu a’lam.

(sh, cantel071202)

             

Komit

SATU DIANTARA SEKIAN PUNCAK KOMITMEN DI HMI

Dikala kesendirian, saat-saat yang dirasa paling dekat dan sakral antara hubungan makhluq daif dengan Sang Khaliq, pernahkah Himpunan ini, beserta kader-kader di dalamnya, kita doakan dengan sungguh-sungguh?! Adalah nonsens menyatakan sebuah gerakan relegius bila salah satu hal yang paling signifikan dalam gerakan tidak diamalkan yakni: doa!
Wallaahu a’lam.


(sh,cantel011002)