KERIS
Tulisan ini mayoritas
terinspirasi dari dialog langsung dengan Pak Muh (www.pakmuh.com) seputar pusaka nusantara dan
segala yang melingkupinya. Ada banyak hal yang awalnya begitu menggelitik karena
harus merubah beberapa paham yang banyak berkembang khususnya di Islam puritan.
Dunia ini memang telah melahirkan
dua titik ekstrim pola pikir yakni logos
dan mythos. Logos meniscayakan pemahaman pemikiran seperti ala positivistic, sedang mythos menghayal sebuah paham yang
sering kali pokoke aku percoyo. Salah
satu misi tulisan ini ingin membawa ke tengah dua alam pikir itu, bahwa
kehidupan ini tidak akan mampu sekedar dicerna oleh pikiran logis, sebaliknya
sekedar menambatkan percaya tanpa mau memberi batas yang jelas memang potensial
akan sesat. Walau menjadi kesadaran bersama bahwa kaum logos maupun mitos akan
tetap ada ilaa yaumil akhir.
Berbagai filosofi bisa ditarik
dari sebuah pusaka bahkan ketika itu dikaitkan dengan ajaran Islam, seperti
pertanyaan:
-
Apa itu
tidak termasuk animisme/dinamisme
“Animis/dinamis itu benar, yang salah itu
ketika menjadi ‘isme’”, ujar Pak Muh kala itu. Terkaget juga akan
pernyataan itu, tapi itu murni karena doktrin klasik pedagogi religi yang
selama ini dikecokkan secara kurang tepat. Kalau memakai nalar beragama secara
jernih mestinya sudah cukup jelas bahwa yang ber-“ruh” tidak cuma manusia.
Disisi lain, “Tidak ada satu atompun yang
mampu eksis di dunia ini kecuali jika ada energi yang menjaganya yakni malaikat”, ujar Pak Muh di suatu kesempatan. Energi
malak pada tiap benda berbeda-beda, dan disiplin pengetahuan ini termasuk sudah
mulai susah dicari ahlinya.
Para empu pusaka
terdahulu amat mengetahui ilmu ini, wabilhusus
energi unsur logam besi dan meteorit. Dari buku-buku kita bisa mengetahui
resonansi sebuah pusaka dilihat dari ciri-ciri fisik yang disematkan oleh sang
empu. Yang menarik pakem (coding)
dari “dapur” dan “pamor” oleh para empu bersifat konsisten, sehingga masyarakat
menjadi mudah dan tidak bingung memahami posisi dan fungsi sebuah pusaka.
-
Kenapa
pusaka punya daya
Tiap benda
mempunyai resonansi. Demikian juga besi. Ada beragam jenis besi dalam khazanah
nusantara dan para empu sangat memahami resonansi dari masing-masing jenis besi
itu. Seperti disebut diawal resonansi itu adalah pancaran energi malak yang
melingkupi besi itu. Ini alami bisa mewujud tanpa harus bekerjasama dengan
bangsa jin.
Dalam konsepsi
umum, “Sesuatu akan menjadi luarbiasa
bila mampu menggabungkan dua kutub ekstrim yang berbeda secara harmoni”,
ujar Pak Muh. Beliau mencontohkan karya Thomas A. Edison yang menggabungkan dua
kutub listrik plus-minus menjadi cahaya yang terkendali. Lampu bolam listrik
Edison mampu menyala dengan prasyarat penghampaan hawa di dalam bolam kaca.
Persis manusia yang ingin hebat, bila ingin mengharmonisasikan ruh yang diluar
ruang dan waktu dengan kemungkinan yang
tidak terbatas, dengan wadak yang terbenam dalam ruang waktu serta potensial
yang terbatas, maka ia harus mengeluarkan “hawa” dari kelindan dirinya.
Dalam pembuatan
sebuah pusaka, empu mampu mengharmonisasikan dua titik ekstrim dalam
kesetimbangan daya dan estetika yang mengagumkan. Satu unsur besi dari bumi,
dan satu unsur langit yakni meteorit untuk pembuatan pamornya.
Masih ada lagi
keampuhan sang empu, yakni kesabaran, ketelatenan, keuletan juga keprihatinan
dalam proses membuat pusaka. Ketika baru mencari inspirasi ia sudah puasa,
apalagi terpaan cobaan badani dan godaan hawa ketika membuatnya. Sehingga wajar
resonansi dari sang empu begitu terasa. Jadi pusaka adalah perwujudan bentuk
tiga dimensi dari doa, harapan dan permohonan dari sang empu yang diiringi
kerja dan tekat kerasnya. Maka sang empu tersambar sabda Gusti “inallaha ma’a shobiriin”, ujar Pak Muh.
-
Apa itu
resonansi bentukan
Tiap benda yang
dipakai atau digunakan oleh seorang manusia maka eter-eter dari manusia itu
ikut membentuk gelombang kepada benda yang ia kenakan. Maka kita menjadi wajar
dan mafhum, bila hadir dalam rumah seorang yang jahat kita merasa tidak betah,
dan bila berada dalam rumah orang yang khusuk kita menjadi ayem. Jadi sama
sekali bukan klenik kalau kita ingin mewarisi khasanah benda dari beliau-beliau
yang kita akui maqomat spiritualnya. Batasannya sudah cukup jelas, selama hal
itu tidak menjadi “isme”.
-
Kenapa
lelaki perlu memiliki pusaka khususnya keris
Sosok seorang
lelaki selayaknya tampil ikut mengurai persoalan agama maupun dunia. Ketika ia
berusaha menelateni ikhtiar kebenaran itu, menjadi sangat mungkin dia tampil sebagai
sosok yang amat susah dipahami oleh orang yang paling dekat dengan dirinya
sekalipun. Di saat-saat kritis, dalam tekanan yang lagi tinggi-tingginya sangat
mungkin dia malah ditinggalkan oleh orang-orang sekelilinginya. Maka dia butuh the last defence, sesuatu supporting system yang tidak akan
memrotes apapun kondisi dia. Itulah peran pusaka, khususnya keris. Karena dalam
ragam pusaka nusantara, keris memang untuk ageman
sekaligus piyandel, tombak lebih
untuk penjaga griya dan pedang cenderung untuk peperangan. Mungkin sebagian
akan berkomentar, kenapa tidak langsung ke Gusti untuk pertahanan diri?! Ah..
ini sekedar sesuatu yang biasa, bila kita ingin hiburan kita nonton film, atau
kalau pas galau kita butuh teman curhat, tidak perlu dikomentari kenapa cari
hiburan dan teman curhatnya tidak langsung ke Gusti kan. Githu loh!
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar