Kamis, 18 Desember 2014

(Kembali) Objektifikasi [Oleh: Supardi; Alumni Ponpes Muhammadiyah Sragen Angk. 1996]

Makalah ini akan dikaji di Majlis Selikuran putaran ke-16, Ahad 21 desember 2014 di Serambi Masjid Raya Al-Falah Sragen

Mengikuti dialektika Hegel, tesa—antitesa—sintesa, posisi objektifikasi “kurang lebih” menjadi islamisasi—sekularisasi—objektifikasi. Islamisasi mengandaikan adanya gerakan dari konteks ke teks. Konteks yang tak lain adalah kenyataan mesti ditarik ke ranah teks. Peristiwa-peristiwa keseharian yang merupakan wajah kenyataan dicari relevansinya dengan narasi kitab suci. Kenyataan menyesuaikan kitab suci. Gerakan islamisasi ini bergulir ketika Muhammad Natsir membidani Masyumi. Masyumi disebutnya sebagai partai Islam. Membawa aspirasi dan representasi aliran Islam. Masyumi, oleh para penggagas dan pengusungnya, didedikasikan sebagai upaya eksternalisasi. Mewujud-nyatakan keyakinan nilai-nilai Islam ke ranah publik. Kehidupan sosial, dinilai belum islami, sehingga perlu diislamisasikan. Kenyataan mesti diselaraskan dengan isi teks kitab suci.

Gerakan islamisasi mendapatkan momentumnya, kala meletus Revolusi Iran, tahun 1979. Gerakan kembali ke teks marak, seiring kemenangan para mullah, menggulingkan rezim sekuler. Buku-buku sejenis, yang membawa ide islamisasi, membanjiri toko buku. Membombardir para penikmat buku. Tokoh-tokoh  pengusung islamisasi, kian familiar di telinga kawula muda generasi 70-an. Sebut saja, ada Ziaudin Sardar, Isma’il Raji Al-Faruqi, Abul A’la Al-Maududi, Sayid Qutub, dan lain-lain. Dan Bang Imad atau Imadduddin Abdulrahim, cendekiawan muslim lokal dalam negeri, yang getol mengangkat ide islamisasi. Penerbit Mizan, penerbit Pustaka, yang dua-duanya domisili di Bandung, jadi lokomotif penyebaran gagasan islamisasi. Ada lagi penerbit Gema Insani Press, yang hingga kini masih eksis menggulirkan gagasan Islamisasi.

Seiring gagasan islamisasi yang bermula dari Masyumi, tahun 1955, dan mendapatkan puncak “kejayaan” tahun 70-an, di kutub yang berbeda, mulai bersemi gagasan sekularisasi. Adalah Nurkholish Madjid, lokomotif sekularisasi, yang menghembuskan gerakan pembaharuan pemikiran Islam, tahun 1970. Bersama sejawatnya di PII, dan HMI, seperti Utomo Dananjaya, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib, dan sebagainya, ia menggulirkan pentingnya pemisahan agama dari arena publik. “Islam, Yes, Partai Islam, No ?”, jadi ikon Cak Nur, sapaan akrab Nurkholish Madjid, yang sontak mendapat perlawanan sengit dari kutub “Islamisasi”. Gagasan sekularisasi, sederhananya adalah teks untuk teks itu sendiri dan ranah privat, sedang konteks adalah duniawi, ranah publik yang berlepas dengan ikatan ukhrowi atau teks. Gagasan sekularisasi, seakan kini telah mendapatkan lahan suburnya, dengan makin gencarnya gerakan Islam liberal. Kita mengetahui bahwa Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Asyaukanie, Novriantoni, dan para “geng” paramadina, tak henti mengkampanyekan sekularisasi. Jargon “pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme”, jadi ikon para pengusung sekularisasi saat ini.

“Pertarungan” kutub islamisasi dengan kutub sekularisasi, kini makin terasa panas. Saling tuding kerap terlontar dari kedua kutub. Kutub Islamisasi, yang dikenal dengan gerakan skriptural/tekstual, dicurigai akan membawa Islam “garis keras”. Fenomena teror, dan kekerasan berbasis agama, ide Negara Islam sering dialamatkan pada pengusung islamisasi. Sebaliknya kutub sekularisasi, yang mencoba memilah secara sosiologis bukan filosofis, dunia-akhirat, disalahpahami, sebagai pendukung pragmatisme ala Orde Baru. Gagasan kebebasan berekspresi, ide pemisahan ekstrim agama-ilmu pengetahuan, dan Negara sekuler, ditujukan kepada para pengusung sekularisasi.

Mencoba keluar dari kemelut “kubu-kubuan” tersebut, almarhum Kuntowijoyo, menggulirkan gagasan objektifikasi. Objektifikasi, yang saya tangkap dari tulisan-tulisannya, adalah upaya menerjemahkan teks kitab suci menjadi konteks atau kenyataan. Hal itu mengandaikan adanya rumusan teori sosial yang berbasis teks. Teori yang diturunkan dari narasi teks kitab suci, baru kemudian diterjemahkan jadi ujud nyata. Kalau para pengusung sekularisasi, biasa berkutat pada hermeneutik, yaitu ilmu alat untuk menafsirkan teks, demi memahami kedalaman Islam, demi kebagusan “ilmu agama”. Maka orientasi objektifikasi, bukan untuk memahami Islam, melainkan bagaimana menerapkan ajaran-ajaran sosial yang terkandung dalam teks menjadi konteks sosial masa kini. Objektifikasi adalah upaya menerapkan teks, Al-Qur’an dan As-Sunah, yang merujuk gejala-gejala sosial Arab abad ke-7, menjadi konteks sosial masa kini dan di sini. Abad VII yang masa agraris, jelas berbeda situasi dan kondisinya dengan abad ke-21, yang merupakan era masa teknik. Masa teknik ditandai dengan pola hidup yang serba rasional dan sistemik, tak terelakkan bagi teks kitab suci tersebut untuk menjadikannya kontekstual.

Objektifikasi punya kepentingan untuk kontekstualisasi teks. Kontekstualisasi akan mungkin, jika terlebih dahulu ada rumusan teori yang merujuk pada teks. Dalam merumuskan teori, kita tak bisa menghindar dari aktifitas meminjam teori yang ada. Sehingga teori-teori sosial barat, tak bisa kita hindarkan dalam menganalisa teks, untuk kemudian kita terapkan sebagai gejala objektif. Jadi peminjaman teori itu kita butuhkan, karena kita belum memiliki rumusan teori sendiri, dan saya kira itu sah saja, sepanjang kita memahami batasan Islam. Batasan itu, oleh Kuntowijoyo, disebut kesadaran profetik, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi (Islam sebagai Ilmu, Mizan, hal 104). Humanisasi, kondisi menjadi manusia, artinya memanusiakan manusia, menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Liberasi artinya pembebasan, yang bersinggungan dengan ranah sosial. Sementara, transendensi berarti beriman kepada Allah. Selalu merujuk atau tidak menafikan otoritas Tuhan. Jelas Kuntowijoyo, yang merujuk pada pendapat Fromm (Islam sebagai Ilmu, hal 113), yang tidak menerima otoritas Tuhan niscaya akan mengikuti : (1) relativisme penuh, di mana nilai dan norma sepenuhnya urusan pribadi, (2) nilai tergantung pada masyarakat, sehingga nilai dari golongan dominan yang akan menguasai, dan (3) nilai tergantung pada kondisi biologis, sehingga egoisme, agresifitas yang bakal dominan.

Objektifikasi, jadi sintesa, dari dua kutub, islamisasi dan sekularisasi. Objektifikasi akan mempertemukan dua kutub yang saling menegasikan, yang tak menyelesaikan masalah keberagamaan masyarakat bawah. So, rahmatan lil ‘alamin, bukan lagi jargon. Semoga…..   

Rabu, 17 Desember 2014

Keris

KERIS

Tulisan ini mayoritas terinspirasi dari dialog langsung dengan Pak Muh (www.pakmuh.com) seputar pusaka nusantara dan segala yang melingkupinya. Ada banyak hal yang awalnya begitu menggelitik karena harus merubah beberapa paham yang banyak berkembang khususnya di Islam puritan.
Dunia ini memang telah melahirkan dua titik ekstrim pola pikir yakni logos dan mythos. Logos meniscayakan pemahaman pemikiran seperti ala positivistic, sedang mythos menghayal sebuah paham yang sering kali pokoke aku percoyo. Salah satu misi tulisan ini ingin membawa ke tengah dua alam pikir itu, bahwa kehidupan ini tidak akan mampu sekedar dicerna oleh pikiran logis, sebaliknya sekedar menambatkan percaya tanpa mau memberi batas yang jelas memang potensial akan sesat. Walau menjadi kesadaran bersama bahwa kaum logos maupun mitos akan tetap ada ilaa yaumil akhir.

Berbagai filosofi bisa ditarik dari sebuah pusaka bahkan ketika itu dikaitkan dengan ajaran Islam, seperti pertanyaan:

-          Apa itu tidak termasuk animisme/dinamisme
“Animis/dinamis itu benar, yang salah itu ketika menjadi ‘isme’”, ujar Pak Muh kala itu. Terkaget juga akan pernyataan itu, tapi itu murni karena doktrin klasik pedagogi religi yang selama ini dikecokkan secara kurang tepat. Kalau memakai nalar beragama secara jernih mestinya sudah cukup jelas bahwa yang ber-“ruh” tidak cuma manusia. Disisi lain, “Tidak ada satu atompun yang mampu eksis di dunia ini kecuali jika ada energi yang menjaganya yakni malaikat”,  ujar Pak Muh di suatu kesempatan. Energi malak pada tiap benda berbeda-beda, dan disiplin pengetahuan ini termasuk sudah mulai susah dicari ahlinya.
Para empu pusaka terdahulu amat mengetahui ilmu ini, wabilhusus energi unsur logam besi dan meteorit. Dari buku-buku kita bisa mengetahui resonansi sebuah pusaka dilihat dari ciri-ciri fisik yang disematkan oleh sang empu. Yang menarik pakem (coding) dari “dapur” dan “pamor” oleh para empu bersifat konsisten, sehingga masyarakat menjadi mudah dan tidak bingung memahami posisi dan fungsi sebuah pusaka.

-          Kenapa pusaka punya daya
Tiap benda mempunyai resonansi. Demikian juga besi. Ada beragam jenis besi dalam khazanah nusantara dan para empu sangat memahami resonansi dari masing-masing jenis besi itu. Seperti disebut diawal resonansi itu adalah pancaran energi malak yang melingkupi besi itu. Ini alami bisa mewujud tanpa harus bekerjasama dengan bangsa jin.
Dalam konsepsi umum, “Sesuatu akan menjadi luarbiasa bila mampu menggabungkan dua kutub ekstrim yang berbeda secara harmoni”, ujar Pak Muh. Beliau mencontohkan karya Thomas A. Edison yang menggabungkan dua kutub listrik plus-minus menjadi cahaya yang terkendali. Lampu bolam listrik Edison mampu menyala dengan prasyarat penghampaan hawa di dalam bolam kaca. Persis manusia yang ingin hebat, bila ingin mengharmonisasikan ruh yang diluar ruang dan waktu dengan kemungkinan  yang tidak terbatas, dengan wadak yang terbenam dalam ruang waktu serta potensial yang terbatas, maka ia harus mengeluarkan “hawa” dari kelindan dirinya.
Dalam pembuatan sebuah pusaka, empu mampu mengharmonisasikan dua titik ekstrim dalam kesetimbangan daya dan estetika yang mengagumkan. Satu unsur besi dari bumi, dan satu unsur langit yakni meteorit untuk pembuatan pamornya.
Masih ada lagi keampuhan sang empu, yakni kesabaran, ketelatenan, keuletan juga keprihatinan dalam proses membuat pusaka. Ketika baru mencari inspirasi ia sudah puasa, apalagi terpaan cobaan badani dan godaan hawa ketika membuatnya. Sehingga wajar resonansi dari sang empu begitu terasa. Jadi pusaka adalah perwujudan bentuk tiga dimensi dari doa, harapan dan permohonan dari sang empu yang diiringi kerja dan tekat kerasnya. Maka sang empu tersambar sabda Gusti “inallaha ma’a shobiriin”, ujar Pak Muh.

-          Apa itu resonansi bentukan
Tiap benda yang dipakai atau digunakan oleh seorang manusia maka eter-eter dari manusia itu ikut membentuk gelombang kepada benda yang ia kenakan. Maka kita menjadi wajar dan mafhum, bila hadir dalam rumah seorang yang jahat kita merasa tidak betah, dan bila berada dalam rumah orang yang khusuk kita menjadi ayem. Jadi sama sekali bukan klenik kalau kita ingin mewarisi khasanah benda dari beliau-beliau yang kita akui maqomat spiritualnya. Batasannya sudah cukup jelas, selama hal itu tidak menjadi “isme”.

-          Kenapa lelaki perlu memiliki pusaka khususnya keris
Sosok seorang lelaki selayaknya tampil ikut mengurai persoalan agama maupun dunia. Ketika ia berusaha menelateni ikhtiar kebenaran itu, menjadi sangat mungkin dia tampil sebagai sosok yang amat susah dipahami oleh orang yang paling dekat dengan dirinya sekalipun. Di saat-saat kritis, dalam tekanan yang lagi tinggi-tingginya sangat mungkin dia malah ditinggalkan oleh orang-orang sekelilinginya. Maka dia butuh the last defence, sesuatu supporting system yang tidak akan memrotes apapun kondisi dia. Itulah peran pusaka, khususnya keris. Karena dalam ragam pusaka nusantara, keris memang untuk ageman sekaligus piyandel, tombak lebih untuk penjaga griya dan pedang cenderung untuk peperangan. Mungkin sebagian akan berkomentar, kenapa tidak langsung ke Gusti untuk pertahanan diri?! Ah.. ini sekedar sesuatu yang biasa, bila kita ingin hiburan kita nonton film, atau kalau pas galau kita butuh teman curhat, tidak perlu dikomentari kenapa cari hiburan dan teman curhatnya tidak langsung ke Gusti kan. Githu loh!

Wallahu a’lam.

Air Mata

RISALAH AIR MATA

 

Tangis

Menangis adalah sebuah fenomena dimana keluarnya cairan bening dari mata akibat desakan bathin yang luar biasa, yang bisa macam-macam, bisa kesedihan, haru, gembira, perasaan bersalah dan lain sebagainya.
Disaat ekstase hubungan pribadi antara abdi dengan Penguasanya, adalah lumrah sang abdi mengeluarkan segala keluhan diri, kesalahan diri, kondisi diri. Bila itu terjalin intim, katarsis (pembanjiran unek-unek) bisa berjalan dan air mata berlinang, ada perasaan aneh akan menyusul kemudian , ada perasaan lega, tenang, bahagia, gembira, ceria. Nah, saat seperti ini bisa dipastikan sang abdi cenderung baik dan ingin berbuat baik, sedemikian sehingga niscaya tak ada niat untuk menyakiti abdi-abdi yang lain.
Maka sebuah konklusi ringan bisa dipetik, bahwa hanya orang-orang hatinya tidak bahagialah, tidak bergembiralah yang menyengaja melakukan prilaku menyakiti makhluk Allah yang lain!
Alangkah indahnya bila ketika kita disakiti kita masih mampu tersenyum, memaafkan dan mendoakan yang baik bagi yang menyakiti, karena kita mafhum sesungguhnya yang menyakiti pada hakekatnya sedang susah hatinya, sedang dalam kondisi yang tidak bahagia. Mestinya kita bisa lebih mengasihaninya.

Ceria

Pilihan tepat bagi orang sadar adalah tetap dalam kondisi yang ceria. Dengan ceria kita relatif tidak mudah menyakiti makhluk lain. Dengan ceria kita ikut mencemerlangkan semesta.

Sintesa Air Mata dan Ceria

       Sebuah harmoni yang heroik ketika dihadapan Tuhan, sang abdi mampu menumpahkan segala keluhan semesta, meratapkan seluruh dukanya, mengkhawatirkan kondisi spiritualnya. Dan ketika berhadapan dengan semesta, sang abdi selalu menampakkan keceriaan khas yang elegan, optimisme akan kehidupan dunia, senyuman terhadap derita.
Wallaahu a’lam.

~Universal with Univers; Unity with God ~


(sh, halmahera270903)

Ketua

KETUA dan (mantan) KETUA

Apa  yang kulakukan bila kemarin aku menjadi ketua dan sekarang menjadi bawahan? Aku menjadi tahu diri bahwa sekarang pada posisi dipimpin  yang musti bisa lebih arif, ataukah bertampang selalu berpengalaman memimpin dengan sesering mungkin mengumbar masa lalu kala masih jadi big boss hingga ketuaku kini jadi susah mengaturku?
Lalu apa pula yang aku lakukan bila ketuaku saat ini dulu tidak pernah jadi ketua sepertiku? Kuhormati dia dia sebagai pemimpinku sekarang, ataukah kuposisikan dirinya sebagai muridku yang musti selalu kuajari tentang bagaimana memimpin itu?
Heh, tak tahu aku, syukur aku tak pernah jadi ketua. Makasih Tuhan.
Wallaahu a’lam.


(sh,cantel140203)

Konstitusi

KONSTITUSI ?!*)

          Sejak kapan konstitusi di HMI –yang tertulis- dima’nai sekedar untaian kata-kata ketat yang kaku, sedemikian sehingga membikin acara diskusi ditingkat struktur Badan Pembantu Pimpinan saja ketakutan atau minimal susah luar biasa. Mustinya jeli dalam memerikan konstitusi dimana ketika: ‘Semua boleh kecuali yang dilarang’ dan ketika ‘Semua dilarang kecuali yang diperintah’. Disitulah proporsi-proporsi.
            Sejak kapan pula konstitusi yang tidak tertulis –sering disebut kultur- berhenti pada persoalan Pacaran dan Boncengan. Weh, sempit dan picik sekali! Cobalah lihat, disana ada kultur intelektual, kultur kearifan, kultur mengorangkan orang, ditaruh dimana kultur-kultur ini. Kultur intelektual, dimana sgala lagak, lagu dan laga kita niscaya dima’nai gerak intelektual. Kultur kearifan, dimana kesalahan lebih banyak untuk tidak dihindari tapi dirubah! Kultur mengorangkan orang, dimana perilaku perjuangan sejauh mungkin untuk tidak mencederai siapapun, diri juga semesta. Inilah Ruh! Dan bisa merealita dalam apa saja.
Kultur intelektual, sedemikian sehingga antara pembicara yang sedang eksplanasi ataupun panitia yang sedang cuci piring adalah sejajar, bahkan guyonanpun diupaya slalu ada nilai, tidak asal ngocol dan ngocol asal! Kultur kearifan, sedemikian sehingga sgala aturan main bisa dihayati dengan rela karna siapa lagi yang akan menghormati aturan main bila tidak kadernya sendiri. Kultur mengorangkan orang, sedemikian sehingga tamu ataupun kader yang datang segera disambut dengan sumringah, bahkan soal posesifitas segera bisa tanggap dan tanggon dalam mensikapi durian jatuh di depan rumah, yang jelas-jelas yang punya tidak rela. Dan mustinya masih banyak lagi kultur beserta turunannya. Mau dikemanakan dan digimanakan kultur-kultur ini dalam konstitusi kita?!
Wallaahu a’lam.

(sh, cantel081202)

__________
*)Tulisan ini terlahir dari keprihatinan akan pemahaman konstitusi yang menurut saya terjadi distorsi. Bahwa tidak masalah bila ada perdebatan apakah konstitusi HMI itu, yang tertulis saja atau juga yang tidak tertulis. Saya termasuk yang sependapat bahwa aturan yang tidak tertulispun juga konstitusi. Saya menganalogikan dengan negara, bahwa hukum tidak tertulispun diakui pula sebagai hukum, seperti hukum adat. Distorsi yang saya maksud adalah ruh dari konstitusi jadi tak terjamah, kita mengerti bahwa tiap sesuatu ada sisi dhohir, juga ada sisi bathinnya, dan sisi bathin atau ruh dari konstitusi adalah ‘kesepakatan’. Tidak perduli bahwa kesepakatan itu hasil tradisi ataupun hasil pembaharuan, tertulis ataupun tidak, selama belum diganti mustinya secara ikhlas kita hayati. Dan yang paling relevan mengganti kesepakatan yang sifatnya berlaku secara umum di HMI adalah di kongres ataupun forum-forum nasional yang relevan lainnya. Pernah memang di Temu Pengader Nasional (TPN) di Purwokerto tahun 2000 ada seorang Pengader Akhwat dari Indonesia Timur mengusulkan kultur pergaulan seperti larangan pacaran ditetapkan sekalian secara tertulis dalam konstitusi, dan saya termasuk yang tidak sepakat, dengan alasan saat itu, pertama kemampuan teks dalam memotret kenyataan adalah terbatas, sehingga reduksi malah amat mungkin terjadi, kedua bila  dibukukan berapa kitab konstitusi yang musti dimiliki HMI bila kultur juga harus diatur dalam bentuk teks, sedemikian sehingga semakin banyak kitab dikhawatirkan malah semakin banyak yang tidak terbaca maka makin susah terujud.

Pencari Dan Pecundang

PENCARI DAN PECUNDANG

            Di sini digunakan kata “Pencari” untuk mema’nai individu kreatif yang selalu gundah mencari kebenaran; Para Pencari Tuhan; Para Pencari Diri! –walau memang Tuhan tak dan takkan pernah hilang-. Pasti ada cirinya, maka bila tidak masuk ciri itu meski berlagak “Pencari”, sungguh dia hanya sekedar “Pecundang”!
            Secara eksperiental terungkap, ciri yang paling menonjol dari sang Pencari adalah dia menjadi teramat altruis (kebalikan egois) dimasa-masa pencariannya. Sekedar eksplanasi : Ketika diri gelisah mencari, diawali dari rasa nisbi akan nilai yang dipegang selama ini. Dari sana sang Pencari akan berusaha dengan mati-matian untuk mencari nilai-nilai yang bertebaran di semesta. Nah, muncullah semarak pelayanan, pemberian, pengabdian demi menjumput nilai. Meski tubuhnya dekil, meski ritualnya tak tertib.
            Tapi bila yang terlihat adalah seorang yang dekil, tak tertib, norak dan sekaligus malesan, etos kerja rendah, nyusahin orang,  bukannya yang ringan bantu, suka memberi, senang melayani, rela mengabdi serta bersemangat bila dapat amanah, wah inilah yang namanya: “Pecundang” (The Looser). Sesederhana itu!
Wallaahu a’lam.

(sh, cantel071202)

             

Komit

SATU DIANTARA SEKIAN PUNCAK KOMITMEN DI HMI

Dikala kesendirian, saat-saat yang dirasa paling dekat dan sakral antara hubungan makhluq daif dengan Sang Khaliq, pernahkah Himpunan ini, beserta kader-kader di dalamnya, kita doakan dengan sungguh-sungguh?! Adalah nonsens menyatakan sebuah gerakan relegius bila salah satu hal yang paling signifikan dalam gerakan tidak diamalkan yakni: doa!
Wallaahu a’lam.


(sh,cantel011002)

Rabu, 19 November 2014

Lazismu Reinkarnasi Penolong Kesengsaraan Oemoem


Lazismu
Reinkarnasi Penolong Kesengsaraan Umum
(Ibroh Api Juang Kyai Dahlan)

Oleh: Ikhwanushoffa (Anggota Pengurus Lazismu PDM Sragen)
Dodok Sartono, SE (Ketua Pengurus Lazismu PDM Sragen)

Abstraksi
Mobilisasi sosial yang dimasinisi Kyai Dahlan 1 abad yang lalu telah membuahkan karya yang fenomenal. Itu tak lepas dari keakurasian pencandraan Beliau dalam memeri problema masyarakat saat itu dan keprimaannya dalam menemukan solusinya. Ini hanya mungkin dilakukan oleh sosok yang telah selesai akan dirinya sendiri. Manusia Muhammadiyah kini terlahir dengan masalahnya sendiri. Ia harus menemukan aqidah/paradigma masa depan yang akuratif (tajdid) dan itu benar-benar dihayati dalam hidup mulai kini. Ini tanda lahirnya minoritas kreatif. Di lain sisi juga musti mengeksplor tradisi positif Muhammadiyah yang sebenarnya telah ada dan mengakar sejak gerakan ini menjadi (turats). Dan gerakan Lazismu mempunyai alasan kecukupannya dalam menyelenggarakan turats Muhammadiyah.

I.                   Mencandra Pemikiran Kyai Dahlan
KH. Ahmad Dahlan memberikan tonggak kokoh dalam membangun peradaban khususnya di Indonesia. Selain menyelesaikan problem-problem kekinian, saat itu beliau juga berusaha menyiapkan masyarakat masa depan dengan penuh telaten. Walau semua bisa disimplifikasi dari motivasi (latar belakang) yang tunggal yakni penyantunan pada yang fakir (baik itu fakir harta maupun fakir ilmu) tetapi mempunyai orientasi (latar depan) yang ganda. Dengan dirintisnya rumah miskin, panti asuhan, rumah sakit, dan sejenisnya Kyai Dahlan berkehendak kebutuhan jangka pendek umat mampu teratasi dengan secepatnya. Sedang meretas forum-forum pengkajian, sekolah, mendorong warga Muhammadiyah berpendidikan setinggi-tingginya dan seterusnya adalah jawaban akan problem masa depan, dimana dimasa depan tiap umat dituntut menyiapkan paradigma (aqidah) yang relevan pada jamannya. Minimal menurut Thomas S. Kuhn, bila saat ini masyarakat sedang berparadigma I maka masa depan adalah milik sekelompok kecil masyarakat yang saat itu telah mampu hidup dengan paradigma II, dan seterusnya.
Dalam satu abad Muhammadiyah kita bisa merasakan, meminjam istilah Kuntowidjoyo, mobilisasi sosial warga Muhammadiyah telah banyak membuahkan hasil, bahkan paradigma ke-Islaman negeri ini mayoritas adalah hasil tempaan Kyai Dahlan dimasa lalu. Terlepas dari hal furu’iyah dan politis. Bagaimana penduduk negeri ini kini bisa berdampingan secara elegan, confident dan substantif. Walau saat itu Kyai Dahlan hidup dalam kondisi umat Islam yang terbelakang, tidak PD dan tradisional, beliau saat itu telah mampu hidup seperti manusia masa depan, beliau adalah sosok yang melampaui zamannya.
Banyak tokoh menuai salah paham ketika berkehendak melacak pemikiran yang paling mempengaruhi Kyai Dahlan. Bila Afghani dan Abduh dianggap yang paling dominan tentunya beliau tak akan merintis lembaga penyantun mustad’afin dan sekolah-sekolah secara masif karena kedua tokoh dimaksud juga tak melakukan hal itu. Apalagi bila dianggap Wahabi adalah paham yang paling mempengaruhi Kyai Dahlan, kita akan menemui sesat paham karena Wahabi takkan mungkin merintis organisasi perempuan macam Aisyiah dan menyekolahkan mereka sampai ke jenjang paling tinggi di jurusan apapun, apalagi dikurun waktu itu.
Melacak pemikiran semestinya  dari cara pandang maqomat keilmuan menurut Kyai Dahlan sendiri dan yang telah Beliau gapai sendiri pula. Menurut Beliau tiga isi pokok al-Quran adalah al-Iman, al-Islam dan al-Ihsan, dan Beliau memberi ilmu pengetahuan agama menjadi: Ilmu Tauhid, Ilmu Figh dan Ilmu Tasawuf. Bila memeri pemikiran Kyai Dahlan dari maqomat Ilmu Tasawuf maka kita akan ketemu kesesuaian paham bagaimana Beliau melakoni perintisan Muhammadiyah ini. Maka keterangan bahwa Kyai Dahlan akrab dengan kitab-kitab al-Ghazali dan kitab-kitab bab Tazkiatul Nafs Ibn Taimiyah menjadi mempunyai relevansi dan semestinya menjadi resultan pemikiran Kyai Dahlan berikutnya. Hidupnya yang zuhud (harta maupun kekuasaan), ketegangan antara khouf dan raja’ yang selalu Beliau jaga hidup hingga akhir hayat, dan totalitas dalam peran yang tak tergantikan kecuali oleh Beliau sendiri menjadi bukti empirik yang terlalu riil.

II.                Titik Tolak Perubahan Kyai Dahlan
Pertanyaan berikutnya adalah sejak kapan Kyai Dahlan menemukan transendensi momen spiritual sehingga menjadi manusia agung itu? Bukti sejarah mencatat bahwa setelah haji, terutama haji yang kedua, Beliau menemukan perubahan-perubahan yang berarti, shifting paradigm, pergeseran dan pengukuhan aqidah. Seperti yang kita tahu, setelah haji Beliau meluncurkan momen dan monumen fenomenalnya. Menurut Muhammad Zuhri, Haji adalah puncak peribadatan Islam. Haji adalah transendensi kemauan insani menjangkau Iradatulloh (Kehendak Tuhan). Sebuah peribadatan sebagai solusi sintesa dari dua kutub keadaan manusia yang diametrik yakni antara makhluk sejarah di satu dan makhluk kosmos disisi yang lain, sehingga dengan haji yang mabrur manusia akan menemukan diri sebagai makhluk abror atau insan kamil. Insan yang peroleh maqom:

$tB ¼çmçGù=yèsù ô`t㠓̍øBr&

Dan apa yang aku lakukan tidak dari kemauanku sendiri. (al-Kahfi:78)
Didalam aktualisasi diri tanpa motif selain amr-Allah tersirat wujudnya peran ketuhanan didalam diri pelakunya.
Soal amr-Allah, Muhammad Zuhri menjabarkan bahwa kenyataan yang berujud benda-benda, manusia dan peristiwa-peristiwa memiliki dua wajah yang berupa “ciptaan” dan “amr”. Ketika seseorang menghadapi kenyataan dan yang tampak olehnya sisi “ciptaan”-nya, ia akan bersemangat untuk hidup dengan berupaya mengungkapkan segala fasilitas yang tersimpan di dalamnya. Apabila yang tampak olehnya sisi “amr”-nya (amrullah), ia akan kehilangan hak untuk menyentuhnya menurut kemauan sendiri.

Ÿwr& ã&s! ß,ù=sƒø:$# âöDF{$#ur 3 x8u‘$t6s? ª!$# >u‘ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÎÍÈ  

Sungguh, milik Allahlah ciptaan dan amr itu. Mahaberkah Allah, Pengurus semesta alam. (al-A’raf: 54)
Secara otentik kita menyaksikan bahwa Kyai Dahlan telah membuktikan dalam dirinya sebuah ayat:

žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan yang ada dalam suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada didalam dirinya. (ar-Ra’d: 11)
Dengan berubahnya kedirian Kyai Dahlan maka berubah pula keadaan manusia nusantara ini. Disinilah jawaban terang akan perdebatan klasik ayam dan telur tentang mana dulu yang harus berubah dalam meretas peradaban, manusia atau sistemnya dahulu. Dalam Islam jawabannya terlalu gamblang bahwa manusianya yang harus berubah terlebih dahulu. Dalam sebuah halaqah Muhammad Zuhri pernah menyampaikan bahwa Kyai Dahlan adalah sufi terbesar saat itu, karena sufi-sufi seantero dunia pada jamannya hanya berkutat dari masjid, majlis dan pesantren, tetapi Kyai Dahlan tampil dalam gerakan organisasi maju, menyantuni kaum papa sekaligus merintis sekolah-sekolah yang jumlahnya kini tiada banding di planet ini.

III.        Tantangan Muhammadiyah Kini dan Tawaran Solusi (Lazismu Sragen sebagai case study)
Tantangan generasi Muhammadiyah saat ini adalah bagaimana melanjutkan elan vital Kyai Dahlan. Merujuk pendapat DR. Sir Muh. Iqbal ketika memeri kemegahan Yunani pada jamannya, Iqbal berpendapat bahwa kejayaan Yunani ditopang selain terbuka akan pemikiran-pemikiran falsafah saat itu juga karena kokohnya kearifan tradisi mitologis yang dipertahankan. Senada dengan Hassan Hanafi dalam mencandra Tiongkok yang mekar luar biasa, karena pada rintisan jamannya Mao Tse Tung selain terbuka dengan ide komunis juga masih mempertahankan tradisi Kong Fu Tse yang mengakar di masyarakat.
Tugas kaum muda saat ini adalah menggali paradigma masa depan, tapi itu saja tidak cukup. Harus berhasil menemukan paradigma yang diyakini dan benar-benar diselenggarakan dalam hidupnya, jadi tidak sekedar konsep. Kemudian mengeksplor dan menghidupkan tradisi Muhammadiyah yang positif dan mengakar. Dalam istilah Hassan Hanafi inilah konsep tajdid (pembaharuan) dan turats (tradisi).
Kami dari Sragen meyakini bahwa Lazismu memenuhi sufficient reason (alasan kecukupan)  untuk dijadikan sebagai icon tradisi Muhammadiyah. Karena walau saat ini belum menjadi program unggulan secara nasional di Muhammadiyah, tetapi darah penyantunan sebenarnya telah mengalir pada diri-diri warga Muhammadiyah. Cuma belum terwadahi secara profesional sedemikian sehingga capaian, sasaran, sebaran dan penyalurannya jadi tidak maksimal. Contoh kecil yang menohok adalah sedemikian mudah kita membangun Gedung Dakwah dengan abai bahwa disekitarnya ribuan rumah mau ambruk. Minimal ini yang terjadi di Sragen, di Sragen saat ini ada 40.000 lebih rumah tidak layak huni, tetapi jangan tanya, para aghniya dan perkumpulannya dalam waktu relatif singkat mampu membangun gedung pertemuan megah dengan tanpa kita dengar bahwa mereka punya program bedah rumah. Belum lagi kalau kita bicara waiting list haji ditengah seretnya penarikan zakat, dan sebagainya-dan sebagainya.
Dalam rapat perdana Lazismu Sragen, saya menyampaikan prolog yang menurut saya kristalisasi dari sekian benang merah perbincangan, tulisan bahkan makian akan realita kekinian Muhammadiyah, saya sampaikan: “Apa saat ini yang murah dari Muhammadiyah, sekolahnya mahal, rumah sakitnya mahal, PT-nya apa lagi?!”. Disinilah Lazismu menemukan titik strategisnya. Bahwa kehadirannya semacam klise film Penolong Kesengsaraan Umum yang dicetak ulang. Berikut sekedar sebagai gambaran Lazismu di Sragen:
1.     Pada awal tahun 2010 sama sekali tidak ada cerita bahwa ambulan benar-benar gratis, apalagi untuk area antar seluruh pelosok Jawa-Madura, pada tahun itu juga ambulan Lazismu Sragen menjadi pionernya.
2.  Tahun 2011 di Sragen, bahkan mungkin Muhammadiyah daerah manapun, belum ada cerita 1000 anak yatim/piatu diberi santunan yang layak dalam satu waktu dan tempat, dengan tertib. Maka pada ramadhan tahun itu, Lazismu mampu menyantuni 1250 anak yatim/piatu di Masjid Raya al-Falah Sragen dengan tanpa berdesak-desakan apalagi ada yang mati karena impitan atau injakan.
3.   Pada tahun 2012 untuk daerah Jawa Tengah baru Lazismu Kendal yang mampu menghimpun ZIS hingga milyaran, itupun karena Bapak H. Muslim telah merintis Bapelurzam PCM Weleri Kendal sejak tahun 1979 bahkan tidak berhenti sampai beliau jadi Ketua PDM Kendal saat ini. Maka pada tahun itu Lazismu Sragen mencanangkan capaian ZIS 1 milyar, dan Alhamdulillah hingga tutup tahun bisa terkumpul 1,48 milyar rupiah.
4.      Sampai tahun 2013 kita juga belum pernah mendengar klinik Muhammadiyah memberikan kesempatan pada pasien untuk membayar biaya pengobatan dengan sukarela, apalagi untuk dokter spesialis bahkan opname. Maka tahun itu berdiri di Sragen Klinik Sukarela Aisyiah-Lazismu. Dan di akhir medio 2014 ini skema pembiayaannya ditata menjadi donatur bagi yang mampu dan sukarela bagi fakir miskin. Skema donaturpun biayanya masih dibawah rata-rata dibanding berobat di luar. Di akhir tahun 2013 ZIS terkumpul oleh Lazismu Sragen sebesar 1,81 milar rupiah.
5.  Tahun 2014 ini Lazismu mencanangkan tahun pemberdayaan (permodalan produktif) merubah mustahik menjadi muzakki dan ini butuh dana besar sedemikian sehingga fokus program adalah kampanye zakat. Hingga per 30 Oktober kemarin telah terkumpul 2,3 milyar rupiah dari target tutup tahun 3 milyar. Dana yang terkumpul itu sudah temasuk penghimpunan dana untuk Gaza sebesar Rp 178 juta lebih, yang disalurkan bersama PP Lazismu sebesar Rp 2,5 M. Bisa dibayangkan bila Lazismu, seluruh kabupaten/kota yang berjumlah 514 di Indonesia itu mengumpulkan dana per  Rp 10 jutaan saja, maka kita akan mampu mengirim ke Gaza Rp 5 M lebih. Plus, bila tahun 2010 kita baru punya 1 ambulan gratis, maka tahun ini kita telah punya 4 ambulan gratis. Ini mengindikasikan potensi Lazismu yang luar biasa sebagai unit penyantun reaksi cepat.
Capaian-capaian di atas bagi daerah-daerah lain mungkin lumayan sedikit, tapi bagi kota kecil seperti Sragen capaian itu cukup besar, walau belum bisa dikatakan optimal. Kunci utama yang dilakukan Lazismu Sragen sejak tahun 2010 adalah pembenahan manajemen dengan sedikit meniru Majlis Dikdasmen, dimana antara yang di pengurus majlis terpisah dengan para pelaksana yakni Kepsek, Guru dan tenaga sekolah. Maka Lazismu Sragenpun memisah amil menjadi Pengurus dengan Pelaksana, dimana Pelaksana memang digaji,  masuk dan bekerja secara profesional. Sedikit gambaran tahun 2010 pelaksana Lazismu Sragen sebanyak 2 orang, tahun 2011 sebanyak 5 orang dan 2012 sampai sekarang 7 orang.
IV.              Khatimah
Makalah ini akan kehilangan relevansinya bila sekedar membicarakan capaian fisik Lazismu, tetapi kita akan membahas tradisi positif apa yang pantas dihidangkan sebagai program unggulan Muhammadiyah bersanding dengan program unggulan lainnya dalam meniti jalan masa depan jaman. Karena tidak mungkin semua program jadi unggulan, dan juga sebaliknya jadi ironi bila program yang diunggulkan ternyata tidak relevan. Bila kita sepakat akan tesa Muh. Iqbal dan Hassan Hanafi, maka Lazismu Sragen menawarkan Lazismu sebagai tonggak tradisi yang harus dijaga dan diunggulkan oleh Muhammadiyah, dan di sisi lain mungkin JIMM bisa dipromosikan sebagai minoritas kreatif untuk menyiapkan cetak biru aqidah masa depan, selama memang paradigma itu benar-benar diyakini kesahihannya, terpenuhi pula alasan kecukupannya, dan dilakoni betul dalam hidup sehari-hari para penggerak-penggeraknya, mulai saat ini.

JIMM memang diproyeksikan sebagai cerdik cendekia (ulama) Muhammadiyah dan Lazismu fokus utamanya adalah penyantun kaum miskin. Ulama dan orang-orang miskin mempunyai posisi sentral dalam spiritual Islam, dalam sebuah potongan hadis qudsi:

“……
Carilah keridlaan-Ku dengan mencari keridlaan orang-orang miskin. Carilah rahmat-Ku dengan menyertai para ulama. Karena rahmat-Ku tak sekejap pun terpisah dari mereka.
Allah berfirman: “Wahai Musa! Dengarkanlah apa yang Kukatakan. Barangsiapa yang sombong pada orang miskin, sungguh akan Aku kumpulkan di hari kiamat kelak dalam bentuk semut kecil. Barangsiapa yang merendahkan diri dan santun pada orang miskin, maka dia akan Aku muliakan di dunia dan akhirat.
Barangsiapa yang mencoba membeberkan rahasia orang miskin, maka kelak dihari kiamat akan Aku kumpulkan dalam keadaan terbeber rahasianya. Barangsiapa yang merendahkan orang miskin, maka ia sungguh menantang perang dengan-Ku.
Barangsiapa yang beriman kepada-Ku, malaikat akan menyalaminya di dunia dan akhirat.”
Muhammadiyah boleh-boleh saja tidak memakai Lazismu dan JIMM untuk menyongsong masa depannya, juga boleh tidak sependapat dengan Iqbal dan H. Hanafi bahkan hadis qudsi ini untuk konteks persoalannya, tetapi yang jelas problem solving amat tergantung akurasi dan keprimaan memotret problem setting-nya, dan tiap penyelesaian masalah butuh relevansi dan alasan kecukupannya masing-masing. Wallahu a’lam.
Billahittaufiq walhidayah.

Bahan Bacaan:
1.     Al-Ghazali, Imam, 1999 cet 3, Peringatan-Peringatan Ilahi Dalam Hadis Qudsi, Mitra                       Pustaka, Yogyakarta.
2.      Hadjid, KRH, 2013 cet 5, Pelajaran KHA Dahlan, 7 Falsafah Ajaran & 17 Kelompok Ayat               Al-Quran, MPI PPM, Yogyakarta.
3.      Iqbal, Muhammad, 1966, Membangun Kembali Alam Pikiran Islam, Bulan Bintang, Jakarta.
4.      Mulkhan, A. Munir, 2005, Kisah Dan Pesan Kiai Ahmad Dahlan, Pustaka SP, Yogyakarta.
5.      -----------, 2010, Jejak Pembaharuan Sosial Dan Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan, Kompas,           Jakarta
6.      Zuhri, Muhammad, 2007, Mencari Asma Allah Yang Keseratus, Panduan Menjadi Teman                 Dialog Tuhan, Serambi, Jakarta
7.      -----------, 2007, Hidup Lebih Bermakna, Serambi, Jakarta